‘THE KING’

20191102_225242_0000

“Widih.. ganteng nih haha”. Suara tertawa yang agak mengejek dari tante dan om-nya.

Seperti anak pada umumnya yang mengenakan baju lucu. Van yang saat itu masih seumuran anak TK mengenakan baju jaman dulu, topi, tas dan memakai kacamata hitam seolah-olah akan berangkat ke sekolah.

“Hallo people around the world! I am Van and I’m a king hehe” dia berteriak seolah-olah dia sedang menyapa dunia dan mau bersekolah.

Seluruh orang yang di rumah tertawa dan mulai memfoto Van yang berlagak nyentrik itu. Dia kelihatan sangat bersemangat untuk bersekolah. Padahal ia masih di dalam rumah saat malam hari. Pada saat itu semua berkumpul di rumah dari saudara, tante, om dan yang lain. Namun hanya satu yang tidak ada pada waktu itu. Beliau adalah neneknya Van. Neneknya meninggal karena menderita diabetes. Pada saat itu juga tante dan om-nya Van sedih karena sang nenek yang dulu sangat mencintai sang cucu Van sudah tiada. Sebelum meninggal, neneknya menitipkan Van ke tante dan om untuk dirawat hingga dia dewasa.

Lalu mulailah berubah status dari tante dan om. Mereka telah menjadi orang tua dari Van. Namun, Van tetap memanggil mereka seperti biasa yaitu “Tante dan Om”. Van tidak sadar bahwa mereka telah menjadi orang tua yang merawatnya sampai dewasa nanti. Setelah beberapa bulan kemudian, Van mulai menginjakkan kakinya ke sekolah TK Islam. Dia sangat pemalu pada saat itu. Dia pun menangis karena tidak memakai seragam sekolah saat hari pertamanya sekolah. Padahal, ia pun belum diberi seragam dari sekolah tapi dia memaksa untuk pakai seragam sekolah. Akhirnya, tante membujuknya dan berhasil. Van pun mau berangkat ke sekolah. Dia memakai baju yang dimasukkan ke dalam celana dan dikasih sabuk. Ia juga membawa tas yang dipakai saat waktu ia bersemangat sekolah pada waktu itu.

Di dalam kelas yang sederhana dan masih menggunakan papan tulis hitam, Van sangat malu dan tidak banyak bicara pada waktu itu. Akan tetapi ia sangat pintar dan kreatif. Saat pelajaran mewarnai, dia mendapatkan feedback bagus dari gurunya. Pada saat itu ia diantar ke sekolah oleh Omnya.

“Pak, anak bapak ini rajin dan pintar. Cara ia mewarnai sangat bagus akan tetapi ia mewarnainya kurang jelas sehingga tidak terlalu kelihatan” ucap sang guru.

“Ohh begitu ya bu, iya bu terima kasih”.

Dua tahun sudah Van bersekolah di tingkat TK. Van melanjutkan sekolahnya di Madrasah Ibtidaiyah. Van bersekolah di MI selama 6 tahun. Disitu Van seperti halnya di TK dia adalah anak yang baik, pemalu namun pintar.

Setelah sekolah selama 6 tahun di MI, mulailah ia bersekolah di MTs yang berada di dekat rumahnya. Pada waktu itu, Van sangat bersemangat karena ia ingin mengetahui rasanya bersaing di tingkat MTs. Setelah mendaftarkan diri di sekolah, Van akhirnya mengikuti placement test. Pada saat itu dia mengerjakan dengan serius tapi santai. Setelah test selesai, sekitar 3 jam pengumuman test ditempelkan di mading sekolah. Dengan antusias yang tinggi, Van berlari dan melihat hasil tesnya. Dia langsung melihat namanya ada di peringkat ke 3 dari ratusan siswa yang mendaftar di situ. Akhirnya Van masuk di kelas unggulan.

Pada suatu hari, Van berada di kelas dan belajar fisika. Pada saat itu ia tiba-tiba  dipanggil oleh guru ke depan kelas. Akan tetapi ada yang janggal, bu guru tiba-tiba memberi raut muka yang sedih dan kaget kepada Van. Saat itu bu guru langsung membisikkan sesuatu ke Van. Setelah itu, Van bergegas mengambil tasnya dan diperbolehkan izin untuk pulang. Pada saat ia sampai rumah, ada banyak orang yang sedang berduduk, membawa kain kafan, batu nisan dan mulai membuat ruang mandi yang biasanya dipakai  untuk memandikan jenazah. Van langsung masuk rumah dan seketika itu semua orang di rumah menangis dan Van melihat langsung bahwa kakeknya sedang berbaring di kasur. Tante dan Om pun meminta Van untuk mencium kening kakeknya untuk terakhir kalinya.

Momen berduka pun berlalu seiring berjalannya waktu. Van pun sudah beranjak remaja. Ia sudah mulai bersekolah di tingkat SMA. Sebelum SMA, dia sangat tertarik dengan budaya dan bahasa yang ada di seluruh dunia. Ia sangat menyukai dunia internasional. Ia pun belajar bahasa Inggris, Jepang dan Mandarin.

“Kamu SMA mau ambil jurusan apa nanti?” saudara perempuannya bertannya.

“Ada jurusan apa aja?”

“IPA, IPS, dan BAHASA”

“Wihhh aku mau ambil jurusan bahasa aja!”

“Tapi jurusan bahasa peminatnya sedikit. Bahkan cowoknya juga dikit malah ada yang gada sama sekali”

“Gapapa”

Setelah memilih jurusan bahasa, Van pun langsung fokus ke pelajaran bahasa yaitu Inggris, Jepang dan Mandarin. Van masuk ke dalam kelas dan melihat semuanya perempuan. Van pun cuek dan langsung duduk di bangku tengah. Ia sedang menunggu mugkin ada cowok lain yang masuk kelas. Namun sampai pulang tak ada yang cowok yang masuk kelas bahasa. Van pun menjadi salah satu murid terganteng di kelas.

Hari selanjutnya, Van keluar ke kantin untuk  makan tapi ia malah dibully oleh kakak kelas maupun teman sebayanya karena ia tidak punya teman laki-laki di kelasnya.

“Widdihh cowok sendiri di kelas nih, enak… hmmm” kata seniornya.

“Hmmm bodoh..” kata Van di dalam hatinya.

Ia dibully sampai dia lulus SMA. Namun ia terlihat sangat kuat dari segi mental. Ia tidak terpengaruh oleh cemooh dari siapapun dab dia terus maju tanpa mengalami hal-hal seperti mental health. Saat wisuda, Van menjadi salah satu wakil dari kelas bahasa untuk menyampaikan pidato dalam bahasa Jepang.

Waktu berjalan begitu cepat. Van sudah dewasa dan berkuliah. Dia memilih untuk melanjutkan studinya di jurusan bahasa Inggris. Hal ini karena dia sangat menyukai dunia internasional. Di rumah yang sudah bagus setelah direnovasi, Van, tante dan Om sekali-kali membahas progres belajar Van saat kuliah. Van termasuk mahasiswa yang rajin. Meskipun posturnya kecil, ia tetap bersemangat belajar untuk mengetahui isi dunia ini.

“Aku bukan hanya penduduk Indonesia, melainkan aku juga penduduk dunia. I’m on world level now!” kata Van di dalam hati.

Ia sangat bersemangat karena ia masih ingat dengan apa yang dilakukan oleh temannya. Mereka mengejek Van karena fisiknya yang kecil dan tidak setampan aktor drama korea. Namun, Van tidak menyerah dan terus belajar tentang semua yang ada di bumi ini. Setelah belajar banyak dari universitas, ia pun menjadi orang yang sangat ramah, baik, dan sangat menghormati perbedaan.

Sepulang kuliah, Van langsung mencuci tangan dan kaki. Setelah itu, ia mengambil piring, sendok dan mengambil makanan. Sambil makan, tante Van datang dan ingin bicara dengannya.

“Van.. kamu sekolah yang pintar ya, kamu adalah harapan bagi keluarga. Kamu laki-laki, jadi harus tegas, pintar dan bisa menjadi pemimpin” kata tante.

Van pun mendengarkan sambil meresapi pesan yang disampaikan oleh tante.

“Iya, aku akan menjadi laki-laki hebat dan pemimpin hebat di keluarga ini” sambutnya dalam hati Van.

“Ini pesan dari kakek, kalau kamu adalah sang raja yang akan menggantikan ayahmu di sini. Pesan kakek, jadilah laki-laki yang tegas, ramah, pintar, dan dapat menjadi pemimpin nantinya. Jangan sampai kamu goyah karena lingkungan yang selalu merendahkanmu”.

“Iya, aku bakal menjadi orang yang bermanfaat dan menjadi raja yang tegas, ramah dan pintar di keluarga ini. Aku juga akan selalu ingat dengan pesan kakek bahwa aku adalah raja. Aku adalah laki-laki yang akan menjadi pemimpin hebat”.

Lima tahun kemudian, Van menjadi pribadi yang matang dimana ia disegani oleh warga sekitar karena kebijaksanaan dan kepintarannya. Di sana lah ia mempunyai keluarga kecil. Ia memiliki istri yang soleha, cantik dan mempunyai satu anak laki-laki. Namun, saat ia sudah menjadi sang raja yang hebat dikeluarganya, ia sudah tidak lagi bersama sang kakek, nenek, tante, dan om-nya lagi.

 

 

Leave a comment